Rumah Kontainer, Tahan Gempa, Tapi Tidak Cocok Untuk Daerah Tropis

Denpasar – Rumah hunian memang tidak habis untuk dibicarakan. Lantaran rumah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Mahalnya harga rumah dan semakin berkurangnya lahan perumahan, membuat pengembang berlomba – lomba membuat rumah yang terjangkau dengan tidak terlalu menghabiskan lahan. Salah satunya adalah rumah susun atau apartemen. Namun saat ini ada model rumah yang muncul untuk meminimalkan biaya yang dikeluarkan yaitu rumah kontainer.

 

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Bali I Gede Suardita, Jumat (23/4) menjelaskan, rumah kontainer adalah rumah yang dibuat dari peti kemas berbahan logal, berbentuk kubus dan balok. “Memang rumah ini lebih simple, mungkin menghabiskan ruang dan biaya juga tidak begitu banyak, dan juga kokoh dan tahan gempa,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jangan Sampai Banyak Terbuang, Simak Trik Kelola Dapur

Namun, menurutnya karena rumah di Bali erat dengan budaya lokal, maka rumah seperti ini ke depan belum bisa diterima masyarakat Bali sebagai tempat hunian.

“Karena masyarakat kita masih mengedepankan rumah yang umum sudah ada seperti rumah yang berbentuk limas. Di Bali identic dengan kearifan lokal yang menonjolkan seni. Sedangkan rumah kontainer itu bentuknya polos kotak, jadi kurang diminati,” jelasnya.

 

Bisa saja ke depan minat orang berubah untuk menggunakan rumah container namun dalam waktu 10 tahun ke depan rasanya belum. Meskipun saat ini, usia milenial mendominasi populasi penduduk Indonesia yang notabene terbuka dengan berbagai budaya dan hal baru, namun tetap saja generasi milenial akan lebih memilih rumah konvensional.

Baca Juga :  Tiga Maskapai Rute Penerbangan Internasional Lakukan Pendaratan Perdana di Bandara I Gusti Ngurah Rai

“Apalagi sekarang ada alternative hunian yang lebih murah yaitu rumah susun, mereka akan lebih memilih rumah susun ketimbang memilih kontainer, karena rumah susun atau apartemen itu lebih elegan, seperti tinggal di hotel,” tandasnya.

 

Dari sisi bahan rumah container terbuat dari bahan logam juga dinilai lebih berisiko terhadap petir dan tersetrum, meski sudah ada teknologi yang dapat meredam kedua risiko tersebut. Untuk mengurangi risiko tersebut bisa disiasati dengan interior kayu, busa dan kardus.

Selain itu, rumah dari bahan logam juga membuat suhu udara di dalam ruangan menjadi lebih mudah panas, meski bisa disiasati juga engan menambahkan kardus, kayu, busa dan AC (alat pendingin). “Namun bisa dibayangkan jika sepanjang hari AC dalam rumah container harus dinyalakan,” pungkasnya.

 

Sementara penambahan busa dapat meredam suara bising dari luar karena suara yang ditimbulkan dari bahan logam lebih keras dan sensitive. “Jika di negara barat, iklimnya mendukung karena iklim dingin, rumah container bisa menghangatkan ruangan didalamnya. Sedangkan Indonesia beriklim tropis,” imbuhnya.

 

Dasar rumah kontainer bisa diletakkan begitu saja di atas tanah atau bisa ditambahkan cakarnya dengan cara mengelas kaki atau cakar dengan container. Namun kelemahan yang utama dari logam adalah mudah terjadi korosi (berkarat). Apalagi Indonesia juga negara maritime, dikelilingi laut. Sehingga hujan yang terjadi di Indonesia mengandung garam yang mudah menyebabkan korosi.

 

Harga rumah kontainer yang lebih murah dari rumah konvensional, sangat tergantung pada desain interiornya, karena kontainer bekas pun bisa didaur ulang menjadi rumah. “Tapi kan kembali lagi pada yang akan tinggal di rumah itu, terkait desainnya dan bahan yang digunakan di dalamnya, tentu akan mempengaruhi biayanya,” imbuhnya.

Pada dasarnya rumah container mirip dengan rumah minimalis karena memanfaatkan ruang, memaksimalkan lekuk ruang, sudut. Di Bali sendiri dikatakan belum ada yang mengembangkan rumah kontainer. Tapi pada beberapa tempat usaha atau lapak – lapak pedagang sudah mulai menggunakan container. Suardita menilai rumah kontainer tidak akan menggantikan rumah konvensional khususnya di Bali, karena di Bali rumah seperti ini kurang disarankan.tta