Mulai dari Bom Bali Hingga Pandemi, Kuta Tetap Jadi Destinasi

 Mulai dari Bom Bali Hingga Pandemi, Kuta Tetap Jadi Destinasi

Badung – Jalan berpaving sepanjang Jalan Legian tak tampak satupun orang berkulit putih lewat. Warga Australia yang dominan datang ke Bali, tak terlihat lagi bersantai di bar – bar sambil memegang botol minum.

Salah satu cafe di Jalan Raya Kuta tutup, Sabtu (20/4/2021).BDN

Bahkan artshop – artshop kecil yang sepanjang hari buka, kini memilih tutup. Wilayah pesisir ini tidak lagi menjadi kampung turis, melainkan kota mati yang ditinggal penghuninya.

Baca Juga :  Sedih, Pelaku Perhotalan di Bali Rasakan Simalakama

Cobaan pariwisata tak surut – surut. Dari aksi terorisme dengan adanya bom Bali 1 dan 2 telah menghancurkan pariwisata Bali saat itu. Tak ada turis yang berani datang. Kelompok – kelompok tertentu seperti NGO (non government organization) atau LSM dan komunitas tertentu seperti komunitas surfing banyak memberikan dukungan terhadap Bali. Kuta saat itu menjadi perhatian seluruh dunia. Bahkan mungkin bom membuat Bali semakin dikenal.

Pertigaan Jalan Raya Kuta.BDN

Berangsur – angsur, pariwisata Bali pulih dari bom. Banyak pendanaan dari berbagai kantong datang untuk membantu pemulihan. Namun tahun 2017, pariwisata Bali dan juga Kuta kembali mendapat cobaan. Gunung Agung erupsi hingga menyebabkan penerbangan terhenti. Hal ini membuat Bali terisolasi dari pulau – pulau lainnya.

Baca Juga :  Resort di Sanur, Tempat Persembunyian Dewi Sinta Cek!

Ketidakpastian kapan erupsi berhenti menjadi momok saat itu, karena mengganggu penerbangan. Jika penerbangan yang merupakan pintu masuk Bali terganggu, otomatis tak ada orang bisa datangm.

 

Kini Kuta kembali sepi, bahkan kondisinya tergolong parah. Setahun lebih kondisi Kuta tak kedatangan turis asing. Masyarakat Kuta yang menggantungkan hidup dari pariwisata tak punya penghasilan. Bahkan Camat Kuta Nyoman Rudiartha menyebut 90% masyarakat Kuta bekerja di sektor pariwisata.

 

Turis yang biasa berlalu lalang di trotoar, kini tak satupun terlihat. Bahkan toko – toko kecil penjual produk kerajinan masyarakat yang biasa meramaikan Jalan Legian, Jalan Bakung Sari, Jalan Buni Sari, Jalan Kartika Plaza, Jalan Pantai Kuta dan Jalan Kuta Art Market dan jalan lain, kini “kering kerontang”. Toko – toko, cafe dan restaurant banyak tutup dan mulai berdebu.

Salah satu warga Kuta yang tinggal di Jalan Raya Kuta, Dewa Sumerta mengungkapkan, sekarang Kuta menjadi daerah yang sangat sepi, tidak ada tamu yang berkunjung. Memang sebagian besar masyarakat di Kuta memiliki usaha di bidang pariwisata kini harus tutup karena tidak ada pembeli yang notabene dominan turis asing.

Sanak keluarganya yang lebih banyak memiliki usaha di bidang pariwisata seperti hotel, restaurant, kost – kostan, pemilik artshop kini juga memilih tutup. “Masyarakat Kuta yang dulu punya usaha di bidang pariwisata sekarang lebih banyak melakukan aktivitas budaya seperti ngayah, bersepeda, dan aktivitas lainnya. Jadi sekarang mereka lebih banyak menikmati hidup,” tuturnya.

Ia mengamati, masyarakat Kuta yang dulu menikmati dolar dengan boomingnya pariwisata, dengan tabungannya  mereka masih bisa bertahan, meskipun tidak semua demikian. Dengan adanya pandemi, ia menilai masyarakat mulai menyadari akan dampak dari pariwisata. “Rindu sih dengan pariwisata yang dulu, karena banyak usaha – usaha yang mandeg. Tapi ada sisi positif yang kami rasakan, Kuta menjadi lebih tenang, hiruk pikuk keramaian tidak lagi terdengar,” ungkapnya.

Beberapa kali Kuta dan pariwisata Bali mendapat cobaan, namun Kuta tetaplah dikunjungi wisatawan mancanegara. Wisatawan yang bernostalgia dengan Kuta juga banyak. Bagaimana bisa melupakan Kuta, menelusuri gang – gang kecil dengan sepeda motor, menerobos bar – bar kecil di Jalan Popies, Jalan Benesari, gang Sorga, Jalan Tuan Lange, dan jalan – jalan ikonik di Kuta.tta