Transaksi Menggunakan QR Code di Bali Capai Puluhan Miliar

 Transaksi Menggunakan QR Code di Bali Capai Puluhan Miliar

Denpasar – Bank Indonesia mencatatkan transaksi non tunai menggunakan QRIS atau QR code di Bali telah mencapai Rp 35,51 miliar. Hal ini membuktikan alat transaksi ini mulai diterima masyarakat.

Konsumen menggunakan QRIS untuk berbelanja di pasar murah.BDN

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali Trisno Nugroho, Kamis (22/4/2021) mengatakan, penggunaan QRIS progressnya sangat cepat dan telah masuk ke dalam peringkat 7 besar nasional. Per 16 April 2021, sebanyak 206.811 merchant di Bali dan 9.349 merchant di Tabanan telah merasakan manfaat menggunakan QRIS. Dalam dua bulan, Januari – Februari 2021, tercatat total transaksi QRIS se-Bali sebanyak 353 ribu transaksi dengan nominal mencapai Rp 35,51 Miliar.

Baca Juga :  Bank Indonesia Luncurkan Tujuh Uang Pecahan Baru

Bank Indonesia bekerjasama dengan Pemda, BPD Bali dan Pengelola Pasar, mempersiapkan implementasi digital, yaitu Pasar Murah. Dalam mendukung digitalisasi, QRIS menjadi salah satu solusi alat pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, dan aman serta dapat diaplikasikan di semua sektor dengan skala usaha mikro hingga besar.

 

Digitalisasi pasar yang dilakukan pada beberapa Pemda menunjukkan bahwa digitalisasi itu mudah, tidak ribet diimplementasikan termasuk untuk pedagang kecil tanpa harus berbentuk PT atau Badan Usaha.

Baca Juga :  Mengendalikan Gejolak Harga Cabai

Peresmian digitalisasi pasar tradisional di beberapa kabupaten dilakukan karena pasar tradisional merupakan jantung kegiatan ekonomi dimasyarakat yang mampu mendorong roda ekonomi menuju Bali Bangkit.

 

Digitalisasi selain memenuhi protokol kesehatan juga memudahkan proses transaksi dan meningkatkan layanan kepada masyarakat, serta memudahkan pendataan, karena data transaksi secara otomatis tercatat. Di sisi lain bagi pemerintah digitalisasi ini berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah karena transparan dan mendukung pengambilan kebijakan karena data perkembangan harga komoditas di pasar secara lebih cepat dan tepat diperoleh.tta