Jejak Arya Panji, Korban Serangan Gajah Mada di Pura Dalem Sidha Karya

 Jejak Arya Panji, Korban Serangan Gajah Mada di Pura Dalem Sidha Karya

Jero Mangku Pura Dalem Sidha Karya mengajak mengunjungi pura taman/tta

Jalan berliku mesti dilalui untuk sampai di Pura Dalem Sidha Karya, Banjar Bantas, Peraupan. Letaknya di bagian timur laut. Memasuki area pura sebuah kerangkeng besi, dua kali tinggi manusia membuat yang lewat tak bisa tidak mengacuhkan. Pasalnya di dalam kerangkeng tersebut, terdapat ular piton betina sepanjang 4 meter. Sang Mpunya memberi nama Gek Lusi.

 

Kemudian, di pintu masuk Pura Dalem Bali, yang merupakan area yang wajib dikunjungi sebelum masuk ke area utama, terdapat burung gagak hitam dan burung puteh berwarna putih. Warna hitam putih menjadi ciri khas di pura ini. Di bagian kiri pintu masuk Pura Dalem, terdapat bale kulkul, panglurah yang terdapat sosok wanita cantik berambut panjang terbuat dari .

 

Setelah memasuki area Pura Dalem Bali, terdapat palinggih menyerupai raksasa, berbadan besar terbuat dari tumpukan batu – batu hitam. Bahkan wajahnya (prarai) terbuat dari batu. Palinggih ini disebut Ratu Gede Dalem Peed atau Ratu Dalem Lingsir. Pamedek yang tangkil wajib matur piuning, mohon ijin dan memberi tahu bahwa akan berdoa di tempat ini. Arak tabuh yang tersedia wajib dihaturkan sebagai bukti etika persembahan kedatangan tamu.

 

Sebelum memasuki area utama, pamedek juga wajib matur piuning pada palinggih kecil di depan area utama. Memasuki area utama, geografinya agak lebih tinggi dari tempat lainnya, sekitar 7 meter dari permukaan laut, terlihat aling-aling, berupa macan gading. Menuju kejeroan atau utama mandala di arah barat ke timur, terdapat pelinggih wenara petak yang berada tepat dibelakang aling-aling macan gading.

 

Di utama mandala dari arah utara ketimur, terdapat  bale pemangku, bale pengiasan yang digunakan sebagai tempat ngias Ida bhatara sekaligus tempat menghaturkan banten pemereman pada saat pujawali. Dari arah utara ke selatan terdapat, bale banten, padmasana, pelinggih gedong meru Dalem Sidhakarya, bale gong dan penyimpenan wastra pelinggih.

 

Siapa sangka, pura yang terletak di tengah pemukiman warga Kota Denpasar ini merupakan sisa dari jejak sejarah Patih Gajah Mada dari Majapahit yang menyerang Bali. Diceritakan, seorang Arya Panji ingin pergi ke Den Bukit yang diiringi Bendesa Abian Tiing. Setibanya di Den Bukit, Arya Panji berpesan kepada warga Den Bukit agar siap siaga, karena musuh dari Majapahit sudah tiba di Bali. Lalu Arya Panji kemudian berangkat ke selatan menuju Batur.

Baca Juga :  Lampiran Perpres Terkait Mikol Dicabut

Di wilayah selatan Batur, Arya Panji berpesan kepada kerabatnya tentang keberadaan pasukan Gajah Mada di Tianyar yang akan menuju Bukit Jimbaran. Beberapa saat kemudian Arya Panji mendapat informasi bahwa peperangan telah berlangsung sengit di hutan jarak. Mayat bertumpuk – tumpuk seperti gunung. Tempat perang sengit itu kini menjadi sebuah desa bernama desa Bangkali atau Bangli.

 

Setelah mengetahui insiden tersebut, Arya Panji  berniat pulang ke puri Semanggen Dalem Tukuwub atau Batu Kuub. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan prajurit dari bukit, yakni I Patih Tambiak yang akan mengungsi ke Batur yakni di Panarajon. Sementara warga telah tersebar kemana – mana. Ada yang ke Batu Bongkang, ke Genian di Peraupan dan Patih Tambiak menyembunyikan diri di pegunungan.

Baca Juga :  Jendral Golose Lepas Deputi Pencegahan BNN di Pulau Bali

Arya Panji akhirnya memutuskan mengungsi ke tempat  ayahnya moksa, yakni Puri Batulu. Disanalah ia mendekatkan diri ke pada para dewa memohon keselamatan. Belum selesai beliau berdoa, tiba-tiba Patih Gajah Mada datang menyerang dengan keris. Lalu Si Arya Panji lari ke Puri Batulu.

 

Ia menjatuhkan diri di sungai dan berenang ke arah selatan. Gajah Mada pun ikut  terjun ke sungai membuntuti pelarian Si Arya Panji. Setelah tiba di tepi laut, Si Arya Panji menuju Tegal Asah. Setibanya di tengah tegalan, tak disangka Patih Gajah Mada sudah berada di belakangnya. Si Arya Panji langsung ditusuk dari belakang. Ia jatuh dan tewas. Mayatnya tersungkur ke dan wajahnya menghadap ke tanah.

Baca Juga :  Kecelakaan Tunggal, Supir Terjepit 

Gajah Mada sangat kesal lalu  berangkat dari Tegal Asah menuju Puri Bungkasa. Permaisuri Dalem Bungkasa telah berupaya melarikan diri dengan menerjunkan diri ke sungai. Namun belum jauh pelarian permaisuri Dalem Bungkasa, ia telah tewas dibunuh di tangan Patih Gajah Mada di tepi sungai Yeh Ayu.

 

Patih Gajah Mada kembali berangkat ke Puri Bukit Sari. Ni Gusti Ayu Sari dari Puri Bukti Sari juga telah melarikan diri diiringi oleh para kerabatnya. Semua orang istana telah  mengungsi. Dengan berang Patih Gajah Mada menuju Puri Semanggen. Ia menemukan seorang anak yang terlantar, yang ternyata merupakan putra dari Arya Panji.

 

Patih Gajah Mada hendak membunuhnya serta melenyapkan seluruh keturunan  Raja Bali. Namun tiba-tiba ia teringat akan ajaran agama, tidak boleh membunuh bocah yang tidak berdosa. Patih Gajah Mada bahkan kemudian mengantarkan si anak untuk melihat mayat ayahnya.

 

Si anak yang bernama Dalem Alit itu sangat sedih, setelah melihat mayat ayahnya Arya Panji yang berubah menjadi jangus, ketika dibalikkan oleh Gajah Mada. Patih Gajah mada kemudian mengambil kayu atau taru untuk membuat prerai atau tapel yang dinamakan Dalem Jangus. Sejak itulah mayat Si Arya Panji bernama Dalem Jangus.

Baca Juga :  Pandangan Antropolog Tentang Agama Sunda Wiwitan

Lalu  Dalem Alit menangis, merebahkan diri di atas mayat ayahnya dan berkata, ”Betapa tega tuan membunuh ayahku. Siapakah yang akan aku mintai makan nantinya, hidupku diemban oleh Sang Hyang Amerta. Sedangkan aku masih kecil belum bisa mencari penghidupan. Siapakah yang akan memperhatikan kehidupanku nantinya?” tanya Dalem Alit pada Gajah Mada.

 

Patih Gajah Mada menjawab, ”Siapa yang melahirkanmu, itulah yang patut kamu mintai nafkah,”. Lalu Dalem Alit kembali bertanya, ”Karena ayah dan keluarga saya sudah tewas, bagaimanakah saya bisa mencari nafkah?”

 

Patih Gajah  Mada menjawab, ”Wahai anakku, aku datang dan menyerang Bali. Tujuanku kesini adalah untuk menghancurkan serta membunuh dan melenyapkan seluruh keturunanmu di  Bali,” ucapnya.

 

Setelah mengatakan hal itu, Patih Gajah Mada menyerahkan prarai atau tapel Dalem Jangus pada Dalem Alit untuk dilakukan upacara. Sejak itulah, Dalem Alit diberikan tugas melakukan upacara yadnya sesuai dengan rupa ayahnya yaitu jangus. “Aku serahkan lima jenis upacara itu, kaulah yang mengolahnya. Prarai atau Tapel itu sekarang dinamakan topeng Sidakarya yang berfungsi sebagai panca yadnya dan tirtanya untuk muput karya,” kata Patih Gajah Mada.

 

Dalem Alit dinamai warga Melayu oleh Patih Gajah Mada, sebab ayahnya tewas dalam pelarian. Tempat Arya Panji wafat tidak lagi bernama Tegal Asah, namun dinamakan Buruan,  sebab Gajah Mada memburu ayahnya dan membunuhnya di tempat tersebut.

 

Layaknya pura-pura lain di Bali, Pura Dalem Sidhakarya peraupan ini, dibagi menjadi tiga mandala, yaitu  kanistan mandala atau jaba sisi, madya mandala atau jaba tengah, dan utama mandala atau jeroan.tta