Masyarakat Sengkidu Bebas dari Kebiasaan BAB Sembarangan

 Masyarakat Sengkidu Bebas dari Kebiasaan BAB Sembarangan

Pemandangan buang air besar (BAB) sembarangan atau di sungai dan tegalan tak terlihat lagi di Desa Sengkidu, Manggis, Karangasem. Seluruh rumah tangga di desa yang terletak di ujung timur Bali ini sudah dilengkapi jamban sehat. Dengan demikian Desa Sengkidu bisa mendeklarasikan Open Defecation Free (ODF) atau terbebas dari fenomena buang air besar sembarangan.

Setelah fase ini terlewati, kini Desa Sengkidu menuju desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Dengan demikian masyarakat Desa Sengkidu akan semakin sehat dan bebas dari penyakit – penyakit pencernaan.

Baca Juga :  Alat GeNose C19 Diterapkan di Bandara Ngurah Rai per 9 April

“Semua rumah tangga sudah ODF. Semua warg Sengkidu sudah memiliki jamban dan sudah dimanfaatkan sehingg tidak ada masyarakat BAB sembarangan. Sengkidu siap betul menuju STBM,” tegas Kepala Desa Sengkidu I Wayan Darpi, S.H. didampingi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) I Nyoman Rintha, Senin (11/10/21). Darpi menuturkan, selain memiliki jamban, untuk menuju STBM, Desa Sengkidu juga telah terdidik untuk mencuci tangan pakai sabun (CTPS). Kebiasaan ini sudah dilakoni sejak masyarakat ODF alias tidak BAB sembarangan. Terlebih di masa pandemi Cpvid-19, masyarakat wajib mencuci tangan, maka CTPS juga terbilang sukses.

Pengamanan, pengolahan makanan dan minuman pun telah terkelola dengan baik. Rata – rata masyarakat Sengkidu telah memiliki lemari pendingin atau kulkas. Jika tak ada kulkas, setidaknya masyarakat menyimpan makanan di meja yang telah tertutup tudung saji agar terhindar dari lalat.

l

Sementara air minum juga menjadi indikator kesuksesan desa STBM. Desa Sengkidu memiliki dua sumber air yaitu air PDAM yang dikelola keamanannya oleh pemerintah. Sedangkan sumber air yang lain berasal dari Sumur yang diawasi keamanan dan kebersihannya eh Puskesmas Manggis.

Masing – masing rumah tangga telah dilengkapi septic tank untuk pembuangan air limbah rumah tangga. Sampah di Desa Sengkidu juga tidak mengotori desa lain. Desa memiliki dua penampungan sampah tanpa pemungutan retribusi dari masyarakat.

Baca Juga :  AOFOG 27 Dilaksanakan di Bali, Berhasil Satukan Ribuan Ahli Obgyn se-Asia Pasifik

Satu penampungan sampah untuk bank sampah, satu lagi untuk pengolahan sampah menjadi pupuk. Sejak 2010, Sengkidu telah memulai melakukan pengolahan sampah berbasis sumber. Meski lebih dari 10 tahun mengalami lika liku, namun kini pengolahan sampah berbasis sumber telah menjadi budaya di masyarakat.

“Jadi kelima pilar menuju Desa STBM no problem bagi Sengkidu. Sengkidu optimis dan siap untuk menerima tim penilai STBM yang akan diverifikasi 2021,” ungkapnya.

Jika verifikasi telah dilakukan menurutnya upata menjaga keberlanjutan harus dilakukan agar semua pilar STBM menjadi budaya pada masyarakat Sengkidu. Karena dengan menjaga STBM, masyarakat juga akan menerima manfaatnya yaitu menjadi sehat, lingkungan sehat, tidak ada yang terkena DBD bahkan tidak ada yang terkena muntaber massal.tta