Tips Berbisnis Kuliner Ala Harry Paramuda

 Tips Berbisnis Kuliner Ala Harry Paramuda

Direktur Utama Kuta Seafood Harry Paramuda

Ada banyak orang sukses yang mampu mengelola bisnis kulinernya dengan baik. Salah satunya adalah Harry Paramuda, pengusaha asal Sulawesi ini. Setelah sukses mengembangkan cafe kopi premium di Sulawesi, Identik Coffe, dan Hydro Coffee termasuk hadir di Bandara Luwuk Kota Sulteng.

Anggota DPP HIPMI ini ditemui di Kuta belum lama ini menuturkan kisah suksesnya berbisnis kuliner. Menurutnya yang pertama adalah tantangan cashflow apalagi baru buka. Namun tantangan cashflow tidak hanya dialami pebisnis kuliner tapi juga bisnis bidang lain.

Baca Juga :  Dua Tahun Tak Bertemu, Gathering ICA Badung Jadi Ajang Lepas Kangen

BEP (Break Event Point) bisnis kuliner biasanya akan terjadi setelah 2 – 3 tahun berjalan dan tergantung omzet harian.

“Cashflow adalah suatu tantangan semua pelaku usaha baru dimana mereka berinvestasi karena harapannya investasi mereka bisa kembali dalam waktu yang secepatnya dan sesingkat – singkatnya tapi itu memang butuh kerjasama semua tim,” ujarnuam

Tentu saja tantangan berikutnya adalah menciptakan produk makanan yang enak, berbeda dari tempat lainnya sehingg memiliki ciri khas agar dicari orang. Tempat yang nyaman dan bersih juga menjadi pertimbangan customer untuk datang dan merekomendasikan tempat tersebut ke teman atau keluarganya.

Baca Juga :  Peduli Peningkatan Perekonomian Masyarakat Buleleng, PLN Serahkan Bantuan 160 Juta

Selain itu, bisnis kuliner tidak bisa dikatakan sulit atau gampang tapi menurutnya orang yang bisa berbisnis kuliner itu adalah seseorang yang memiliki manajemen yang baik, karena bisnis kuliner sangat detail. Tidak ada satupun item yang di dalamnya tidak terdata seperti bawang merah, cabai, bahan baku utama. Sehingga butuh ketelitian yang sangat baik dalam menjalankan bisnis kuliner. “Kalau kita tidak punya ketelitian, saya rasa, manajemen tidak akan berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Sementara dari sisi profit, banyak orang mengira bisnis kuliner, untungnya besar. Tapi menurutnya keuntungan tersebut setara dengan investasi besar yang dikeluarkan baik untuk tempat makan, fasilitas, karyawan dan yang utama adalah bahan baku yang setiap harinya mesti ada dan harganya fluktuatif.

“Dari biaya -biaya itulah kita mencoba menghitung kemudian baru bisa menentukan harga makanan. Jadi saya pikir kita mencari keuntungan yang wajar dulu untuk menemukan customer setia,” tandasnya.