Tak Perlu Berobat ke Singapura, Bali Akan Bangun Pariwisata Medis Bertaraf Internasional

 Tak Perlu Berobat ke Singapura, Bali Akan Bangun Pariwisata Medis Bertaraf Internasional

Masyarakat Indonesia kini tak perlu lagi jauh – jauh berobat ke Singapura, karena Bali akan memiliki pusat layanan kesehatan berbasis pariwisata bertaraf internasional. Dalam pengembangan medical tourism ini, Bali bekerjasama dengan National Hospital Surabaya yang telah lebih dulu melayani medical tourism.

CEO National Hospital Adj. Prof Hananiel Prakasya Widjaya, Sabtu (6/8/21) mengatakan, langkah awal menuju visi tersebut, dalam waktu dekat Bali akan memiliki tambahan laboratorium PCR untuk pemeriksaan spesimen Covid19 yaitu Lab PCR National Hospital di Klinik Sada Jiwa, Mengwi, Badung. Lab PCR ini bisa melayani 500 – 1.000 spesimen per hari.

Kapasitas tersebut cukup untuk menunjang pembukaan pariwisata Bali, yang mana perlu menunjukkan tes swab PCR. “Jadi cukup membantu teman – teman untuk membuka penerbangan pariwisata dan juga untuk skrining termasuk PCR mutan,” ujarnya.

Di lab tersebut ada 8 orang tenaga yang bekerja selama 18 jam sehari. Dalam satu shift ada 4 orang yang bertugas. Jika dibutuhkan, maka diperbantukan tenaga dari National Hospital Surabaya.

Meskipun letak lab di Mengwi, Badung namun yang terpenting adalah semakin banyak swab center di Bali agar semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Pembangunan lab PCR ini merupakan langkah awal menuju Medical Tourism (wisata kesehatan). Bali menjadi salah satu area yang diunggulkan untuk menjadi tujuan wisata. Maka bukan tidak mungkin, wisata kesehatan juga menjadi kebutuhan dan tujuan bagi turis internasional maupun turis nusantara.

SDM atau tenaga medis di Bali pun menurutnya memiliki keterampilan yang mumpuni karena ada fakultas kedokteran terbaik di Bali. “Namun berbicara sistem rumah sakit bukan hanya berbicara kualitas dokter, tapi peralatan juga harus ada sistem atau manajemen pelayanan dan teknologi uang baik. Nah kami ingin membantu sistem kesehatan di Bali agar lebih kuat sebagai etalase sistem kesehatan di Indonesia karena disini (Bali) tempat turis,” ujarnya.

Bali menurutnya memiliki potensi yang besar untuk pengembangan wisata kesehatan karena Bali tujuan wisata turis internasional. Selain itu, Bali juga berpotensi meng-grab turis nusantara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Bali, karena orang Indonesia mampu mengeluarkan ratusan juta dolar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di luar negeri. Potensi ini lah yang bisa dilayani di Indonesia.

Baca Juga :  Peduli Pertanian Organik, PLN Salurkan Bantuan _Smart Farming_ ke Kelompok Petani Cabai Klungkung

Ketua Bali Medical Tourism Association (BMTA) dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., mengatakan, ada 14 rumah sakit yang siap melayani medical tourism yaitu RSUP Sanglah dengan layanan unggulan Jantung, RS Bali Mandara dengan layanan unggulan kanker, RSUD Mangusada dengan layanan unggulan jantung, RS Bhayangkara dengan layanan unggulan hiperbarik. Sedangkan RS swasta yaitu BROS dengan layanan unggulan bayi tabung, RS Siloam dengan layanan bedah plastik, RS Prima Medika dengan layanan unggulan kanker, Kasih Ibu Hospital (KIH) Group dengan layanan unggulan neuro science, Klinik Penta Medica dengan layanan evakuasi, Klinik 911 dengan layanan dental, Assist 221 dengan layanan evakuasi.

Menurut Patra semua layanan kesehatan telah lengkap ada di Bali bahkan SDM Bali pun kompeten dan terampil. Namun layanan kesehatan di Bali perlu update terkait teknologi dan kemampuan pelayanan kesehatan sehingga perlu bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk National Hospital.

“Makanya kami BMTA memfasilitasi untuk menghubungkan antara pasien, SDM dengan ahlinya. Misalnya ada yang pasien yang ingin telekonsultasi, bisa dilakukan dokter di Bali dengan dibantu atau didampingi expert dari National Hospital,” jelasnya.

Menurutnya dengan kerjasama yang tertuang dalam MoU maka akan terjalin komitmen untuk saling membantu, baik National Hospital membantu BMTA dalam pengembangan medical tourism ataupun BMTA membantu National Hospital dalam pengembangan layanannya di Bali.

“Kita bisa datangkan expert dari National Hospital untuk transfer knowledge atau pendampingan. Kalau engga ada kerjasama ini mereka tidak akan membuka diri,” tandasnya.

Baca Juga :  Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tewas Terjun ke Jurang¬†

Kerjasama dengan National Hospital juga bisa transfer knowledge. Pasien tidak perlu ke Surabaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tapi bisa dilayani di Bali hanya saja perlu pendampingan dari National Hospital.

Kerjasama dengan National Hospital diawali dengan pengembangan Lab PCR di Klinik Sada Jiwa. Diakui ijin formal dari Kemenkes terkait operasional lab ini telah ada. Hanya saja rekomendasi dari dinas kesehatan provinsi yang tengah menunggu persetujuan.

Dinas Pariwisata dikatakan mendukung pengembangan lab PCR ini untuk mempercepat pemulihan pariwisata dan ekonomi Bali. Dengan kedatangan wisatawan 8.000 per hari atau lebih maka perlu dukungan lab PCR tambahan sebagai syarat masuk PPDN (Pelaku Perjalanan Dalam Negeri) maupun PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri).

Baca Juga :  Arti Mimpi Menggendong Bayi

Sayang jika melewatkan potensi Rp 160 triliun per tahun untuk layanan kesehatan, yang seharusnya bisa dilayani di Indonesia. Dengan adanya layanan medis paripurna di Bali serta bertaraf internasional, tentu akan menjadi kepercayaan masyarakat dunia untuk ke Bali mendapatkan layanan kesehatan. “BMTH hadir untuk meningkatkan mutu layanan dan sekaligus promosi pariwisata medis,” imbuhnya.tta