BPS Merilis Pengangguran Turun– Kok Bisa? Begini Penjelasannya

 BPS Merilis Pengangguran Turun– Kok Bisa? Begini Penjelasannya

Pertigaan Jalan Raya Kuta.BDN

“Hanif mengatakan, diduga terjadi pergeseran pekerjaan karena pandemi Covid19 karena kategori usaha perdagangan besar, eceran dan reparasi mendapatkan limpahan naker dari sektor lain menyebabkan kondisi naker di sektor ini naik signifikan”

Denpasar – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis angka pengangguran Februari 2021 pada Rabu (5/5). Hasilnya, angka pengangguran turun. Dari 2,57 juta angkatan kerja, sebanyak 2,43 juta orang bekerja dan 0,14 juta orang tidak bekerja atau menganggur. Angka pengangguran 0,14 juta orang ini mengalami penurunan 5,4 ribu orang dibandingkan Agustus 2020. Kok bisa angka pengangguran turun padahal pariwisata dan ekonomi Bali belum pulih?
Baca Juga :  Lampiran Perpres Terkait Mikol Dicabut
Begini penjelasan Kepala BPS Bali Hanif Yahya. BPS mencatat angka pengangguran berdasarkan jam kerja. Penduduk yang masuk kategori bekerja adalah minimal bekerja 1 jam selama seminggu berturut – turut untuk mendapatkan penghasilan.
Untuk lebih jelas pemahaman pengukuran bekerja, dapat dilihat di link ini. https://www.bps.go.id/subject/6/tenaga-kerja.html
Hanif juga menjelaskan, angka pengangguran memang menurun namun kualitas pekerjaan juga turun yang otomatis berdampak pada tingkat penghasilan. Terlihat pengangguran periode Februari 2021 dibandingkan Agustus 2020 terjadi perubahan pada struktur lapangan kerja utama.
Baca Juga :  Terminal Gilimas Siap Sambut Moto GP Mandalika
Pada Februari 2021, kebanyakan penduduk bekerja di sektor pertanian yakni 23,29%, sektor perdagangan besar, eceran dan reparasi sebesar 22,05%, industri pengolahan sebesar 12,56%.
Dibandingkan Februari 2020, naker pada sektor perdagangan besar, eceran dan reparasi tumbuh 1,60%. Kategori usaha transportasi dan pergudangan tumbuh 1,15%, pertanian tumbuh 0,73%. “Ini merupakan tiga lapangan usaha yang tumbuh dan menyerap naker terbanyak dibandingkan Agustus 2020,” ungkapnya.
Sedangkan kategori usaha penyerap naker yang turun terbesar yaitu industri pengolahan -3,19%, akmamin -0,69%, jasa perusahaan -0,41%.
Perlu diketahui bahwa sektor usaha akmamin (akomodasi makan dan minum), transportasi dan pergudangan merupakan sektor yang lekat dengan bidang pariwisata. Tidak menutup kemungkinan industri pengolahan juga termasuk sektor pariwisata karena produk yang dihasilkan bisa saja untuk kebutuhan wisata. Demikian juga dengan konstruksi, yang mana bangunan konstruksi yang dibangun bisa saja bertujuan untuk pembangunan vila sehingga tergolong bidang pariwisata.
Diduga terjadi pergeseran pekerjaan karena pandemi Covid19 karena kategori usaha perdagangan besar, eceran dan reparasi mendapatkan limpahan naker dari sektor lain menyebabkan kondisi naker di sektor ini naik signifikan.
Pernyataan knilah kunci dari pertanyaan kenapa penganggguran menurun. Bahwa terjadi pergeseran pekerjaan dari yang semula bekerja di pariwisata beralih ke sektor non pariwisata seperti pertanian dan sektor lain. Itulah sebabnya pengangguran menurun.
Belum dibukanya pintu masuk wisata untuk wisman ke Bali juga berpengaruh pada naker di sektor yang berkaitan dengan pariwisata seperti akmamin dan sektor industri yang mana pandemi Covid 19 membuat pekerja beralih dari sektor tersebut ke sektor pertanian.
Baca Juga :  PLN Raih Juara 2 Layanan "Contact Center"
Industri kerajinan belum menunjukkan tanda Рtanda kebangkitan, dan belum membaiknya keterisian kamar menjadi penyebab pekerja di dua sektor yaitu akmamin dan industri  beralih.
Kondisi ini dikuatkan dengan pernyataan Ekonom Unud Prof. Wayan Ramantha dam Akademisi Undiknas Prof. Gede Sri Darma bahwa mulai terbentuk titik ekuilibrium (keseimbangan)baru, yang mana artinya masyarakat mulai mencari sumber ekonomi baru selain pariwisata, sehingga titik keseimbangan yang awalnya turun kini perlahan – lahan seimbang.tta