Tumpek Uye 5 September 2026, Bukan Sekadar Ritual tapi Pengingat Cara Manusia Memperlakukan Alam
Sabtu, 5 September 2026, masyarakat Hindu Bali merayakan Rahina Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Hari suci tersebut jatuh pada Saniscara Kliwon Uye dan menjadi salah satu momentum untuk memberikan penghormatan kepada hewan serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Tumpek Uye memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ritual yang dilakukan pada satu hari tertentu. Gubernur Bali Wayan Koster mengajak masyarakat memaknai Tumpek Uye melalui prinsip urip yang manguripi, yakni kehidupan yang tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga memberikan kehidupan dan menjaga keberlangsungan alam.
Dari Hewan Peliharaan hingga Lingkungan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sangat bergantung pada alam.
Makanan, air, udara hingga berbagai kebutuhan hidup berasal dari lingkungan sekitar. Pada saat yang sama, aktivitas manusia juga dapat memberikan tekanan terhadap alam. Karena itu, pesan Tumpek Uye menjadi relevan tidak hanya dalam konteks upacara, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari.


Memelihara hewan dengan baik, tidak menyakiti satwa, menjaga habitat dan tidak membuang sampah sembarangan merupakan bentuk sederhana dari penghormatan terhadap kehidupan. Tumpek Uye juga menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hubungan satu arah. Manusia mengambil dari alam, tetapi manusia juga memiliki tanggung jawab untuk merawatnya.
Dalam konteks Bali yang menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari sampah hingga tekanan terhadap ruang hidup, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Tumpek Uye tahun ini jatuh pada Sabtu, sehingga bisa menjadi momentum keluarga untuk tidak hanya melakukan persembahyangan, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menghormati hewan dan lingkungan.
Pada akhirnya, makna sebuah hari suci tidak berhenti ketika ritual selesai. Nilainya justru terlihat dari bagaimana pesan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.