Tak Perlu Cemas karena Negatif

 Tak Perlu Cemas karena Negatif

M. Setyawan Santoso

Setyawan Santoso

Pengamat Ekonomi, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali.

Pada tanggal 5 Mei BPS provinsi Bali mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I tahun 2021 secara tahunan (yoy) menunjukkan angka negatif.  Padahal pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 sudah terkontraksi -9,3%.  Meskipun demikian kita tak perlu berkecil hati dengan angka tersebut.  Angka pertumbuhan ekonomi hasil perhitungan BPS bersumber dari 2 hal  yaitu kinerja perekonomian Bali triwulan I 2021 dan  angka pembanding.

Kinerja perekonomian Bali pada triwulan I  sudah cukup baik. Sementara itu perhitungan tahunan (yoy) di dasarkan pada perbandingan nilai dari triwulan ini dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yaitu triwulan I tahun 2020. Ingat bahwa pandemi covid 19 dinyatakan masuk ke Indonesia tanggal 2 Maret 2020 sehingga kebijakan pembatasan mobilitas (PSBB) baru diterapkan pada akhir bulan tersebut. Artinya, kinerja triwulan I tahun 2020  di  dukung oleh bulan Januari – Februari yang tumbuh sangat baik.   Kinerja yang cukup baik ditahun 2021  dibandingkan dengan kinerja  yang sangat baik di tahun 2020 menghasilkan angka negatif (kontraksi). Jadi sumber angka negatif adalah dari tingginya kinerja ekonomi tahun lalu.

Kita akui memang tantangan yang datang pada triwulan I tahun 2021 tidak lebih ringan dibandingkan tahun lalu.  Pandemi masih melanda  sehingga memaksa kita menahan laju mobilitas sosial. Dunia usaha terasa berat dipaksa bergerak dalam kondisi penuh pembatasan.   Kebijakan pengendalian pandemi telah diterapkan dengan  sangat hati hati oleh pemerintah.  Kebijakan  persyaratan tes PCR pada akhir tahun dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM Mikro)  bukan saja membatasi kunjungan wisatawan nusantara ke Bali,  tetapi juga membatasi mobilitas masyarakat di wilayah Bali.

Baca Juga :  Ini Alasan Bali Potensial Dibuka Untuk Wisman

Namun pada triwulan ini kita melakukan banyak melakukan strategi dan inovasi yang berbekal pengalaman yang kita alami sejak bulan April tahun 2020.  Larangan berkerumun dan pembatasan jumlah orang dalam ruangan telah diatasi dengan cara work from home (WFH).  Larangan pertemuan massa diatasi dengan pertemuan secara virtual. Larangan berkunjung ke pasar dan mall diatasi dengan belanja secara online.  Transaksi perdagangan di pasar berubah menjadi transaksi di market place. Transaksi pembayaran tunai berubah menjadi pembayaran dengan secara digital baik dengan transfer, dompet digital maupun dengan QRIS.  Ini sebabnya transaksi dengan menggunakan e comerce meningkat sejak bulan Agustus 2020 dan meningkat tajam sejak tahun 2021 baik secara nominal  secara nilai transaksi.

Baca Juga :  Dukung Transisi Energi Bersih, PLN Serahkan Sertifikat Energi Terbarukan untuk 5 Istana Kepresidenan

Kelihatannya sebagian besar  aktifitas tidak berkurang intensitasnya, namun aktifitas tersebut berubah mekanisme  pelaksanaannya. Bahkan diantara aktifitas tersebut ada yg justru meningkat seperti pertemuan secara virtual yang bisa diikuti hingga ratusan orang. Rapat kerja yang biasanya dibatasi pada jam kantor kini bisa dilakukan hingga larut malam. Belanja di mall dan pasar dapat berubah menjadi belanja online dengan cakupan hingga ke luar daerah atau bahkan dari luar negri. Kesimpulannya, kinerja perekonomian pada triwulan I cukup baik. Hal ini didukung dengan nilai pendapatan regional sebesar sekitar Rp 36 trilyun rupiah yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi pertengahan tahun 2020 yang lalu.

Kedepan, kinerja perekonomian Bali pada triwulan II tahun 2021 dipastikan lebih baik lagi.  Angka yang lebih baik ini dibandingkan dengan kinerja tahun 2020 yang cukup  rendah dipastikan akan menghasilkan selisih positif.  Artinya, pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2021 dipastikan positif.