Kalau Trem Bandara-Canggu Jadi, Wajah Bali Bisa Berubah Seperti Apa?

 Kalau Trem Bandara-Canggu Jadi, Wajah Bali Bisa Berubah Seperti Apa?

Bayangkan perjalanan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Canggu tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi, taksi atau kendaraan sewa. Pemerintah Bali tengah menyiapkan moda trem listrik yang dirancang menghubungkan kawasan bandara hingga Canggu.

Proyek trem Bandara-Canggu ditargetkan mulai groundbreaking pada Maret 2027. Trase awal memiliki panjang sekitar 12 kilometer, sementara tahap pertama ditargetkan beroperasi pada 2028 dan seluruh jalur hingga Canggu pada 2029.

Baca Juga :  Produk Ramah Lingkungan Masih Jadi Fokus Acer Indonesia di Hari Jadi ke-25

Rencana ini tentu bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru. Jika benar terealisasi, trem berpotensi mengubah cara orang bergerak sekaligus cara kawasan di sepanjang jalurnya berkembang.

Selama ini, kawasan Kuta, Seminyak, Kerobokan hingga Canggu dikenal sebagai salah satu koridor dengan aktivitas wisata dan mobilitas yang tinggi. Pertumbuhan hotel, restoran, vila, tempat hiburan dan bisnis ikut meningkatkan pergerakan kendaraan. Trem diharapkan menjadi salah satu jawaban terhadap persoalan tersebut.

Baca Juga :  Lisa Ju Pamerkan Renceum Réjouissances di New York, AS

Bukan Sekadar Naik Kereta
Yang menarik untuk ditunggu justru bukan hanya kapan trem mulai beroperasi, tetapi apa yang terjadi di sekitar stasiun. Transportasi massal yang terintegrasi dapat mendorong munculnya kawasan komersial, ruang publik, hunian dan aktivitas ekonomi baru di sekitar titik pemberhentian.

Artinya, ketika trem dibangun, perubahan tidak hanya terjadi di atas rel. Nilai ekonomi kawasan juga berpotensi ikut bergerak. Lokasi yang mudah dijangkau transportasi massal bisa menjadi lebih menarik bagi pelaku usaha maupun masyarakat.

Namun, perubahan tersebut juga membutuhkan perencanaan yang matang. Jangan sampai trem hanya menjadi proyek transportasi tanpa koneksi dengan moda lainnya. Masyarakat tetap membutuhkan akses pejalan kaki, kendaraan pengumpan, parkir dan koneksi dengan kawasan tujuan.

Dengan kata lain, keberhasilan trem tidak cukup diukur dari panjang rel yang dibangun. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar merasa perjalanan menjadi lebih mudah.
Bali saat ini sedang berada pada persimpangan penting. Pulau ini membutuhkan pariwisata yang tetap bergerak, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi persoalan kemacetan dan keterbatasan ruang.

Jika terealisasi sesuai rencana, trem Bandara-Canggu bisa menjadi salah satu perubahan transportasi paling besar yang akan membentuk wajah Bali dalam beberapa tahun mendatang.

Leave a Reply