Ijin Darurat Penggunaan Terbit, Ketahui Efek Samping Vaksin Moderna

 Ijin Darurat Penggunaan Terbit, Ketahui Efek Samping Vaksin Moderna

Vaksin yang disuntikkan pertama pada penduduk di Indonesia adalah Sinovac dan Astrazeneca. Namun belakangan pemerintah mulai menggunakan vaksin lain seperti Moderna, Pfizer, Sinovac, Novavax.

 

Meski ada beragam jenis vaksin, namun pada prinsipnya vaksin berfungsi untuk merangsang pembentukan antibody untuk kekebalan terhadap virus Covid19. Salah satu vaksin yang menjadi perhatian adalah moderna, yang dikembangkan di Amerika.

Baca Juga :  Rasakan Kemudahan Tambah Daya Listrik Lewat PLN Mobile

 

Seperti dikutip dari Kompas.com, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito, Jumat (2/7) kemarin mengatakan, hampir sama vaksin Sinovac, vaksin Moderna disuntikkan sebanyak dua kali dalam rentang waktu satu bulan. Adapun dosis masing – masing suntikan yakni 0,5 ml. Namun vaksin ini digunakan untuk usia 18 tahun ke atas karena kelompok usia tersebut dinilai lebih siap menerima rangsangan agar terbentuk kekebalan tubuh.

 

Ia juga mengatakan, vaksin Moderna didapatkan Indonesia dari prosedur Covax Facility melalui jalur multilateral. Vaksin ini diproduksi oleh Moderna Incorporation Amerika Serikat. “Vaksin kan masuk melalui jalur bilateral, bantuan dari Amerika Serikat yang disalurkan melalui multilateral Covax,” ujar Penny.

 

 

 

 

Dalam keterangan pers secara virtual tentang penerbitan ijin penggunaan darurat (EUA) vaksin moderna, Penny juga mengingatkan akan efek samping dari vaksin ini. “Secara umum, keamanan vaksin itu dapat ditoleransi dengan status tingkat keparahan satu dan dua,” ujarnya.

Baca Juga :  Telkomsel Ajak Komunitas Gaming Mengharumkan Nama Bangsa di SuperGamerFest Awards

Sedangkan efek samping yang paling sering dirasakan yakni nyeri, kelelahan, nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, nyeri sendi, pusing. Keluhan-keluhan ini biasanya dirasakan setelah suntikan dosis kedua vaksin.

 

Penny mengatakan, keluhan efek samping ini sama untuk usia dewasa di bawah 65 tahun dan di atas 65 tahun. Namun, ada perbedaan dari sisi titer antibody (jumlah antibody yang terbentuk). “Data imunogenitas yang merupakan tingkatan titer antibodi dan netralisasi menunjukkan bahwa memang untuk kelompok usia lansia lebih rendah dibandingkan usia dewasa,” ungkapnya.tta