Gumi Kenyat Barang – barang Keras Digadai

 Gumi Kenyat Barang – barang Keras Digadai

Nyoman Sender (ist)

Denpasar – Tidak mengherankan, jika Pegadaian mengalami peningkatan jumlah dan volume gadai dari masyarakat. Seperti diketahui, ekonomi Bali saat ini telah resesi dan terancam krisis. Sehingga barang – barang keras pun digadaikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

Pengamat ekonomi Nyoman Sender, Minggu (15/11) mengatakan, yang terjadi pada transaksi di Pegadaian yaitu peningkatan jumlah gadai yang meningkat 120 persen adalah indikasi normal. Dalam situasi ekonomi sulit akibat pandemi Covid19 ini yang mengakibatkan resesi ekonomi, masyarakat yang kehilangan pekerjaan mengalami kesulitan akibat diistirahatkan atau bahkan di PHK. “Yang berarti masyarakat tidak ada penghasilan, sementara konsumsi jalan terus,” tandasnya.

Nyoman Sender (ist)

Akibatnya mereka makan tabungan bagi yang nabung di bank, LPD, koperasi dll. Jika tabungan likuid telah habis dikonsumsi namun belum juga bekerja kembali atau mendapatkan penghasilan seperti semula, maka tabungan keras lain seperti emas, sepeda motor dan barang – barang bergerak lain yang masih berharga terpaksa dibawa ke Pegadaian untuk digadaikan. Sehingga mendapat uang untuk beli sembako untuk bisa bertagan hidup. “Ini adalah fenomena yang biasa terjadi dalam situasi resesi ekonomi. Tidak ada yang aneh, biasa – biasa saja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Menkeu Berikan Relaksasi Penjaminan Kredit Bagi Sektor PHR

Menurutnya yang perlu dipikirkan adalah upaya Pemerintah agar bisa membantu memulihkan kegiatan ekonomi rakyat. Pemerintah pun telah melakukan upaya itu seperti pemberian BLT, hibah dan bantuan – bantuan lain dari pemerintah kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan. “Ini namanya indikasi krisis ekonomi atau resesi. Jika berlangsung terus dalam waktu yang relatif lama namanya depresi. Dalam bahasa rakyat namanya gumi kenyat atau krisis,” tegasnya.tta