Dirjen Bimas Hindu Direbut 3 Calon, Yoga Segara Kukuh Majukan Hindu Nusantara

 Dirjen Bimas Hindu Direbut 3 Calon, Yoga Segara Kukuh Majukan Hindu Nusantara

Jabatan Dirjen Bimas Hindu sedang menjadi rebutan tiga kandidat yaitu Prof. I Nengah Duija, Prof. I Nyoman Sueca dan Prof. I Nyoman Yoga Segara. Ketiganya merupakan dosen pengajar di UHN IGB Sugriwa. Prof. I Nengah Duija merupakan mantan Rektor IHDN periode 2013 – 2017.

Prof. Nengah Duija merupakan lulusan Sastra Bali Universitas Udayana dan S3 Kajian Budaya Unud mampu membawa IHDN bangkit dari keterpurukan saat itu. Pria kelahiran Bangli ini sebelumnya sempat mencalonkan diri menjadi Dirjen Bimas Hindu bersaing dengan Tri Handoko dan Prof. IB Raka Suardana.

Sementara I Nyoman Sueca merupakan guru besar UHN IGB Sugriwa yang dikukuhkan 25 Mei lalu. Sebelumnya, pria asal Desa Lodtunduh ini megawali menjadi PNS di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Gde Pudja Mataram.

Calon ketiga yang berhasil lolos bursa Dirjen Bimas Hindu adalah Prof. I Nyoman Yoga Segara. Wakil Rektor II UHN IGB Sugriwa ini kali pertama mengikuti seleksi calon Dirjen Bimas Hindu. Meski kali pertama, namun komitmen dan programnya nanti, jelas dibutuhkan oleh umat Hindu tidak hanya di Bali tapi juga Hindu Nusantara.

Baca Juga :  Kemudahan Mendapatkan Akses Listrik Meningkat

Keberpihakannya pada Hindu Nusantara bukan untuk penguatan identitas menuju Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, namun memang menjadi concernnya sejak mengenyam pendidikan S1 hingga S3 di Universitas Indonesia. Terakhir, Antropologi merupakan bidang ilmu yang ia tekuni hingga menjadi landasan visinya misinya ke depan.

Bahkan orasi ilmiahnya tentang Hindu Alukta di Tana Toraja menjadi tonggak penting dalam sejarah perjalanan ke-Hindu-annya. Maka dari itu ada sejumlah program kerja yang telah ia rancang jika berhasil menduduki jabatan ini.

Terlebih dahulu ia akan menata kelola manajemen lembaga dan SDM Ditjen Bimas Hindu sehingga dapat menjadi regulator, fasilitator dan pelayan umat. Kemudian Yoga akan memperkuat dan mempercepat 7 program prioritas Kementerian Agama, yaitu tahun toleransi, moderasi beragama, transformasi digital, religiosity indeks, kemandirian pesantren, revitalisasi KUA, cyber university.

Meningkatkan kerukunan baik eksternal dan internal melalui harmonisasi kehidupan keagamaan, dengan bersinergi secara intensif bersama seluruh lembaga keagamaan, perempuan dan pemuda serta terutama majelis agama (PHDI dari pusat hingga daerah) menjadi hal penting juga akan dilakukan.

Meningkatkan literasi budaya, kearifan lokal dan agama melalui publikasi massif baik publikasi ilmiah maupun populer, majalah dan situs online serta berbagai platform media sosial. Mewujudkan gerakan Filantropi Hindu di tiap propinsi dengan memberdayakan donatur dari swasta maupun pemerintah.

Berkolaborasi dengan pihak swasta dan instansi pemerintah terkait untuk akselerasi ekonomi keumatan, membuka dan memberikan akses pendidikan kepada umat Hindu kurang mampu, khususnya Hindu Bali yang ada di wilayah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) dan umat Hindu yang berangkat dari kepercayaan lokal seperti Hindu Tolotang dan Hindu Alukta di Sulawesi Selatan, Hindu asli di Maluku seperti Suku Nuaulu, Suku Kei, Pulau Buru serta Hindu Karo di Medan dan Hindu di daerah pinggiran Jawa seperti Tengger, dan Bromo, dll.

Ia juga akan segera menegerikan STHD Klaten dan memperkuat PTKH negeri dan swasta dengan peningkatan anggaran yang signifikan, membuat pilot project Pasraman Formal dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA di tiap propinsi, dimulai dari Bali, internasionalisasi lembaga PTKH melalui peningkatan kapasitas Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Yoga juga akan menyusun kebijakan dan kebutuhan umat berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan di PTKH, memperkuat hubungan umat Hindu dengan pemerintah daerah setempat sehingga keberadaan umat Hindu mendapat dukungan dari Pemda dan memperkuat model dan metode pembinaan Sad Dharma dengab mengikuti tantangan jaman, khususnya melalui literasi digital dan TIK.

Semua program kerja tersebut ia lakukan berdasarkan pengalaman dan melihat fenomena dari penelitian yang ia lakukan selama ini. Ia mengaku menjadi Dirjen Bimas Hindu bukanlah ambisi pribadi semata namun merupakan kebutuhan umat yang menginginkan kembalinya Hindu Nusantara hidup di Indonesia.

Jika gagal meraih jabatan ini, Yoga tetap  akan melakukan upaya pemajuan keumatan dengan cara lainnya. Misalnya dengan membentuk yayasan untuk pemajuan umat se-Indonesia.