Cara Berkebun Hasilkan Berton- ton Stroberi

 Cara Berkebun Hasilkan Berton- ton Stroberi

pemasangan irigasi tetes/ist

Hawa dingin pegunungan Pancasari memang menusuk hingga ke tulang. Tapi pada cuaca inilah, stroberi hidup. Daerah Pancasari memang terkenal dengan hasil komoditi stroberi. Di lahan seluas 1 ha, Kelompok Tani Bali Buyan Stroberi bisa menghasilkan berton – ton stroberi dalam satu siklus panen.

 

Petani pembudidaya stroberi Wayan Seria menuturkan, ada 24 orang anggota yang berbudi daya stroberi bergabung dalam wadah Kelompok Bali Buyan Berry. Kelompok ini mengelola tanaman stroberi dari hulu hingga hilir, siap dipasarkan.

Baca Juga :  BRI Liga 1 Wujud Nyata BRI Berikan Social Values untuk Kemajuan Sepak Bola Nasional

Penanaman stroberi dimulai dengan pengolahan lahan. Hampir 90% pengelolaan tanaman stroberi dilakukan secara organic. Pengolahan tanah menjadi sangat penting di awal penanaman. Diawali dengan mentraktor atau menggemburkan tanah, kemudian pencampuran pupuk organik dan anorganik.

Namun penggunaan pupuk organik sebanyak 40 ton, hampir mengcover seluruh tanah, baru kemudian ditambahkan pupuk anorgani sebanyak 200 kg per, sehingga sangat sedikit. Tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan stroberi.

 

Pupuk organic pun ia buat secara mandiri dari hasil sisa pasca panen stroberi, difermendasi dengan bahan – bahan organic seperti arang sekamg, dan kotoran hewan baik dari sapi maupun kambing.

Baca Juga :  Biaya Penelitian Terbatas, Yoga Segara Berhasil Telorkan 4 Luaran Penelitian

Tanah yang telah diolah tersebut, dicangkul dan dibuakan bedeng – bedeng. Pembuatan bedeng – bedeng perlu ketelitian karena ada ukuran yang harus dipenuhi yaitu dengan ketinggian selutut orang dewasa atau 30 – 40 cm. Sedangkan ukuran bedengan yaitu lebar 65 cm dan got 55 cm. Sementara jarak antara got dan bedengan 120 cm .

 

Bedeng yang telah terbentuk dipersiapkan untuk pemasangan irigasi tetes untuk mengaliri air dan pupuk. Jarang lubang irigasi tetes juga ditentukan yaitu 20 cm. Bedeng yang telah dibentangkan irigasi tetes ditutup dengan plastic hitam, kemudian membuat lubang – lubang penanaman bibit yang juga diberi jarak 30 – -35 cm.

 

“Titik tetes mennghadap ke atas. Jangan kebalik, karena apabila ada nedapan – endapan dari pupuk itu, tidak menyumbat pori – pori dari irigasi ini,” ujarnya. Irigasi tetes yang telah disambungkan ke pipa, dikatakan dapat menetes jika menggunakan pompa dengan tekanan air 1 – 2 bat sehingga mampu menetes 1 jam, 1 liter.

 

Selanjutnya, penanaman bibit yang diperoleh dari system sulur yang telah dicangkok dengan menggunkana pembungkus plastic dan media tanam organic juga. Umur bibit yang siap ditanam adalah bibit berumur 2 – 3 minggu, telah ada akar. Dengan umur demikian, kurang lebih panjang bibit 7 – 10 cm. Bibit juga ia produksi sendiri di rumah bibit.

Selama perawatan, yang dilakukan adalah penyiraman dan pemupukan cair serta pembersihan gulma. Ketika sudah mulai tumbuh buah, mulai dibuatkan sungkup atau penutup. Mengingat, di lingkungan di tempatnya memiliki curah hujan tinggi sementara tanaman stroberi memang perlu air banyak tapi buahnya tidak boleh kena air, karena akan berisiko pada pembusukan, rasa, dan tampilan buah. Maka dari itu, perlu dibuat sungkup dengan sungkup yang terpasang di tundel. Ketika musim hujan dan malam hari, sungkup ditutup, namun saat panen, sungkup dibuka.

 

Stroberi yang siap dipanen berumur 2 – 3 minggu dengan kondisi kematangan buah 80% – 100%. Ketika sudah mulai berbuah,  “Kalau yang seperti ini, ujungnya saja putih, tingkat kematangannya 80%, ada yang full red, matang 100%,” ujarnya.tta