Bali di Musim Kemarau: Ketika Kabel, Kompor hingga Puntung Rokok Bisa Memicu Api
Kebakaran terjadi berulang di sejumlah wilayah Bali dalam beberapa bulan terakhir. Rumah, ruko, gudang, tempat usaha, lahan hingga tempat pemrosesan akhir (TPA) menjadi sasaran api.
Di Tejakula, Buleleng, tujuh ruko dan dua rumah terbakar pada 1 September 2026.
Polisi menduga kebakaran dipicu korsleting listrik. Pada hari yang sama, sebuah dapur rumah di Seraya Barat, Karangasem, juga terbakar dan diduga akibat korsleting listrik. Di Jembrana, api melahap sekitar empat hektare kebun jati.
Sehari sebelumnya, kebakaran besar terjadi di Jalan Nakula, Denpasar, yang menghanguskan bedeng sekaligus gudang rongsokan. Penyebabnya masih diselidiki. Sementara di TPA Mandung, Tabanan, titik api muncul di tengah musim kemarau dan kepulan asap masih terlihat hingga 2 September. Dari berbagai media juga mencatat kebakaran lahan berulang di Jembrana serta sejumlah kasus kebakaran lahan dan hutan di Bali.


Data BPBD Bali juga menunjukkan kebakaran bukan persoalan yang muncul sekali-dua kali. Dalam periode 11 April hingga 1 September 2026 tercatat 132 kejadian kebakaran gedung dan permukiman di Bali.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan.
1. Periksa listrik sebelum terlambat
Korsleting menjadi salah satu pola yang berulang dalam sejumlah kasus kebakaran bangunan. Karena itu, masyarakat perlu mulai dari hal sederhana, yakni memeriksa instalasi listrik di rumah.
Kabel yang terkelupas, stop kontak longgar, sambungan bertumpuk, kabel yang terlalu panas serta penggunaan terminal listrik secara berlebihan sebaiknya tidak dibiarkan.
Peralatan elektronik yang menghasilkan panas juga perlu mendapat perhatian. Jangan menutup ventilasi televisi, kulkas atau perangkat elektronik lainnya. Peralatan yang tidak digunakan dalam waktu lama sebaiknya dimatikan.
Untuk rumah dengan instalasi listrik yang sudah tua, pemeriksaan oleh tenaga yang kompeten menjadi langkah lebih aman daripada menunggu sampai terjadi gangguan.
2. Jangan tinggalkan dapur dalam keadaan menyala
Dapur menjadi salah satu ruang yang memiliki sumber api terbuka. Kompor yang menyala tanpa pengawasan, minyak yang terlalu panas dan kebocoran gas dapat berubah menjadi kebakaran dalam waktu singkat.
Tabung LPG, regulator dan selang perlu diperiksa secara berkala. Jika tercium bau gas, jangan menyalakan atau mematikan sakelar listrik. Jauhkan sumber api, buka ventilasi jika aman dilakukan, dan segera keluar dari area tersebut bila kebocoran cukup besar.
Ketika memasak, terutama menggunakan minyak, masyarakat sebaiknya tidak meninggalkan dapur. Minyak yang terbakar juga tidak boleh disiram air karena dapat menyebabkan api menyambar lebih besar. Jika aman dan api masih kecil, sumber panas dapat dimatikan dan api ditutup menggunakan penutup yang sesuai.
3. Hentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan
Musim kemarau membuat pembakaran sampah di halaman menjadi jauh lebih berisiko. Daun dan rumput kering dapat menjadi bahan bakar dan api dapat terbawa angin ke lahan di sekitarnya.
Karena itu, pembakaran sampah sebaiknya dihindari, terutama ketika angin kencang dan kondisi lingkungan sangat kering.
Jangan pula membuang puntung rokok sembarangan di lahan, semak atau kawasan hutan. Api kecil yang tidak terlihat dapat berubah menjadi kebakaran besar.
4. Kenali APAR dan jangan hanya menyimpannya
Alat pemadam api ringan (APAR) bukan sekadar perlengkapan yang dipasang di dinding. Penghuni rumah, pekerja toko, restoran, kantor, hotel dan tempat usaha perlu mengetahui cara menggunakannya.
APAR harus ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau dan tidak tertutup barang. Kondisinya juga perlu diperiksa secara berkala.
NusaBali sebelumnya menyoroti perlunya penguatan pelatihan penggunaan APAR kepada masyarakat dan pekerja usaha setelah kebakaran besar di kawasan Seminyak.
Yang tidak kalah penting, masyarakat harus mengetahui kapan harus menggunakan APAR dan kapan harus segera menyelamatkan diri. Jangan mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkan barang.
5. Kalau terjadi kebakaran, utamakan nyawa
Ketika api mulai muncul, segera beri tahu orang di sekitar. Jika api masih sangat kecil dan kondisi memungkinkan, gunakan alat pemadam yang sesuai. Namun jika api cepat membesar, menghasilkan asap tebal atau sudah menjalar ke bagian lain bangunan, segera evakuasi.
Jangan kembali masuk hanya untuk mengambil barang. Asap kebakaran dapat membuat seseorang kehilangan orientasi dan kesadaran.
Saat keluar dari bangunan, gunakan jalur evakuasi yang aman. Jika terdapat asap, posisi tubuh sebaiknya lebih rendah karena asap dan gas panas cenderung berkumpul di bagian atas ruangan.
Setelah berada di tempat aman, segera hubungi petugas pemadam kebakaran dan berikan informasi lokasi secara jelas.
6. Pemerintah juga tak cukup hanya memadamkan api
Pencegahan kebakaran tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah daerah perlu memperkuat inspeksi keselamatan bangunan, terutama di kawasan padat, pasar, rumah kos, gudang, restoran dan tempat usaha.
Edukasi penggunaan APAR juga perlu dilakukan secara rutin, bukan hanya setelah terjadi kebakaran. Pemerintah desa, kelurahan, desa adat, pengelola kawasan dan kelompok masyarakat dapat dilibatkan dalam simulasi sederhana.
Pada musim kemarau, pengawasan terhadap lahan kering, kawasan hutan, TPA dan lokasi yang menyimpan material mudah terbakar juga perlu ditingkatkan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan akses mobil pemadam menuju kawasan permukiman tetap terbuka. Gang sempit, parkir sembarangan dan bangunan yang terlalu rapat dapat memperlambat proses pemadaman ketika kebakaran terjadi.
Pada akhirnya, kebakaran bukan hanya persoalan api. Ada persoalan instalasi listrik, perilaku manusia, kondisi lingkungan, kepadatan bangunan dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Musim kemarau memang membuat risiko kebakaran meningkat. Namun banyak sumber api sebenarnya dapat dicegah sejak awal.
Karena itu, langkah paling murah dan paling efektif bukan menunggu mobil pemadam datang, melainkan memastikan api tidak pernah sempat membesar.