Turunkan Emisi Karbon, Menkomarves Katakan, Indonesia Tak Perlu Didikte

 Turunkan Emisi Karbon, Menkomarves Katakan, Indonesia Tak Perlu Didikte

Kontribusi Indonesia pada pencemaran emisi karbon 2,3 ton per kapita. Sementara, member G20 berkontribusi hampir 80% emisi karbon dunia.

 

Menkomarinves Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu didikte terkait dengan upaya menurunkan gas rumah kaca (GRK). Indonesia tahu harus melakukan apa untuk mengurangi dampak climate change. Selain itu Indonesia juga memiliki komitmen dalam berkontribusi dalam menurunkan dampak climate change. Bahkan pencapaian transisi energi di Indonesia menunjukkan prestasi yang luar biasa di bawah dan negara lain mengapresiasi.

Baca Juga :  Aset PLN Dijaga ATR/BPN Dengan Baik

Kontribusi Indonesia pada pencemaran emisi karbon 2,3 ton per kapita. Sementara, member G20 berkontribusi hampir 80% emisi karbon dunia. “Indonesia hanya 2,3 ton per kapita, negara maju seperti Amerika 14,7 ton per kapita. Tidak ada yang bisa mendikte kami. Kami sudah melakukan restorasi mangrove. Negara mana yang seperti itu? 600 ribu hektar mangrove restoration, program kita selama empat tahun,” ungkapnya saat peresmian PLTS Terapung Waduk Muara Nusa Dua 100 KWp, Jumat (11/11).

Sampai saat penamanan mangrove sudah sampai 170ribu hektar dan  akan dipercepat hingga selesai 2024. “Pengembangan solar panel kelihatannya kecil, tapi kita membuat banyak sekali. Ini hanya intermitten, base loadnya kita punya geothermal, hydropower, dll,” ujarnya.

Menurutnya masih ada 434 Gigawatt potensi renewable energy di Indonesia dan yang baru dikelola baru 5%. “Masih banyak ruang untuk growth, engga perlu kita didikte,” tegasnya.

Baca Juga :  Hal Kecil yang Bikin Kamu Nyaman di Rumah, Apakah Itu?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN berkomitmen untuk menurunkan efek gas rumah kaca (GRK), bukan hanya karena perjanjian internasional, atau hanya kebijakan tapi PLN benar peduli dengan keberlanjutan lingkungan hidup.

Dalam RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik), 13 Gigawatt PLTU dihapus untuk mengurangi CO2 sebesar 1,8 miliar ton. Namun hal itu belum cukup. Sebesar 1,1 Gigawatt pembangkit juga telah digantikan dengan EBT langsung. Hal itu juga belum cukup sehingga PLN kembali menghapus 880 MW dan gas emisinya berkurang 50%.

PLN kemudian menambah pembangkit paling agresif menggunakan pembangkit EBT yaitu telah mencapai 51,6 persen atau 20,9 Gigawatt. Selain itu juga dilakukan pensiun dini pembangkit tenaga uap dari batu bara untuk memberi ruang bagi EBT.