Ternyata Dana Darurat Bisa Disimpan di Sini, Loh! 

 Ternyata Dana Darurat Bisa Disimpan di Sini, Loh! 

Sebelumnya, kita sudah belajar tentang apa itu dana darurat dan bagaimana cara menghitungnya sesuai dengan kebutuhan. Sekarang, yuk cari tau di mana sebaiknya kita menyimpan dana darurat. Soalnya kalau kita simpan di rekening kebutuhan sehari-hari, besar kemungkinan dana daruratnya jadi terpakai. Terus harus gimana dong? Don’t worry, let Bibit spill the tea for you! ☕

 

Cara Pilih Instrumen untuk Simpan Dana Darurat 🧐

 

Ada hal penting yang perlu kamu perhatikan saat memilih instrumen untuk menyimpan dana darurat. Instrumen yang kamu pilih harus bersifat aman, mudah diakses, dan mudah dicairkan (likuid). Ini supaya dana darurat bisa diambil kapanpun saat situasi genting terjadi. 😉

Coba bayangkan, misalnya kamu menyimpan dana darurat di instrumen berisiko tinggi seperti saham. Pas kamu butuh, karena tiba-tiba mobil harus masuk bengkel, ternyata portofolionya merah dan nilai sahamnya turun. Jadinya kamu terpaksa mencairkan portofolio kamu saat nilainya sedang turun dan akhirnya malah rugi deh. That’s why, kita nggak bisa asal pilih instrumen untuk menyimpan dana darurat!

Baca Juga :  Lima Hal Bikin Dompet Tetap Tebal di Tanggal Tua

Pilihan Instrumen untuk Menyimpan Dana Darurat 🎯 

     1.  Tabungan di Bank

Tabungan di bank menjadi instrumen paling umum untuk menyimpan dana darurat karena likuiditas yang tinggi alias mudah dicairkan dan juga aksesnya yang mudah. Bahkan kamu dapat mengambil dananya kapanpun, misalnya di tengah malam saat membutuhkan. Kamu bisa membuat rekening atau kantong khusus untuk menyimpan dana darurat. Ini supaya dana darurat kamu tidak tercampur dan terpakai untuk dana kebutuhan sehari-hari.

 

2.   Deposito

 

Deposito dapat digunakan sebagai instrumen untuk menempatkan sebagian dana darurat. Sebab deposito merupakan salah satu jenis investasi yang rendah risiko. Hasil bunga yang diterima bisa digunakan untuk menambah porsi dana darurat. Jika kamu berminat untuk menempatkannya di deposito, disarankan untuk memilih deposito dengan jangka waktu pendek seperti 1 bulan. Perlu diingat juga nih, ada beberapa bank yang memiliki kebijakan kalau deposito tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo atau ada biaya penalti jika deposito dicairkan sebelum jatuh tempo. Jadi jangan lupa dipastikan dulu ya ketentuannya!

 

3.  Reksa Dana Pasar Uang

 

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) bisa menjadi pilihan yang ideal untuk mengumpulkan maupun menempatkan sebagian dana daruratmu. Soalnya, RPDU merupakan jenis reksa dana yang paling rendah risiko dibandingkan reksa dana obligasi ataupun reksa dana saham. Pergerakan RDPU juga cenderung stabil meningkat karena berisikan produk keuangan seperti deposito serta surat utang (obligasi) dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun.

 

Baca Juga :  Simak Perbedaan Reksa Dana dan Saham

Selain itu, RDPU memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga kamu bisa melakukan pencairan kapan saja tanpa dikenakan biaya penalti dengan proses pencairan paling lambat 3 hari kerja. Potensi imbal hasil di RDPU juga lebih tinggi dibandingkan bunga deposito dan tidak dikenakan pajak. Jadi, potensi keuntungan yang diperoleh bisa menambah dana daruratmu!

Bisa Nggak Sih Menempatkan Dana Darurat di Lebih dari 1 Instrumen Keuangan?💭

Jawabannya: bisa dong! Tapi ini dengan catatan: sebagian dana darurat kamu wajib disimpan di tabungan ya. Misalnya, dana darurat kamu totalnya Rp 12 juta. Kamu bisa menyimpan 50% atau Rp 6 juta di tabungan bank dan 50% di reksa dana pasar uang.

Sekarang kamu jadi lebih tau kan alternatif instrumen untuk menyimpan dana darurat? Yang mana nih pilihanmu? Kamu bisa coba reksa dana pasar uang untuk mulai mengumpulkan atau bahkan menyimpan sebagian dana darurat kamu. Yuk mulai nabung dana darurat di reksa dana pasar uang!

Nabung Reksa Dana Pasar Uang Sekarang!