Perpustakaan Sepi, Ekonomi Ikut Sunyi: Mengapa Literasi Jadi Penentu Masa Depan Denpasar

 Perpustakaan Sepi, Ekonomi Ikut Sunyi: Mengapa Literasi Jadi Penentu Masa Depan Denpasar

Di tengah geliat ekonomi Denpasar yang terus tumbuh sebagai pusat jasa, perdagangan, dan pariwisata di Bali, ada satu ruang yang sering luput dari perhatian, perpustakaan. Sepi, sunyi, dan kerap dianggap tidak relevan dengan denyut ekonomi modern. Padahal, di balik rak-rak buku yang berdebu itu, tersimpan fondasi paling mendasar dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang—literasi.

Pertanyaannya sederhana: mungkinkah sebuah kota bersaing secara ekonomi tanpa masyarakat yang gemar membaca dan berpikir kritis? Jawabannya, sulit. Selama ini, pembangunan ekonomi sering diukur dari indikator yang kasat mata: pertumbuhan investasi, jumlah wisatawan, atau geliat UMKM. Namun, ada satu variabel penting yang bekerja diam-diam namun menentukan kualitas semua itu, yakni literasi.

Baca Juga :  OJK dan IAI Sepakat Akuntansi Aset Kripto Gunakan Panduan SAK Indonesia

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami informasi, menganalisis, dan mengambil keputusan berbasis pengetahuan. Dalam konteks ekonomi, ini berarti, pelaku UMKM mampu membaca tren pasar, tenaga kerja bisa beradaptasi dengan perubahan industri, pemerintah mampu merumuskan kebijakan berbasis data.

Tanpa literasi, ekonomi hanya bergerak di permukaan—ramai, tetapi rapuh. Denpasar sebagai kota yang mengandalkan sektor jasa dan pariwisata sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Pelayanan, inovasi, dan daya saing tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan berpikir kritis dan memahami perubahan global. Dan semua itu berakar dari literasi.

Kota ini tidak kekurangan kafe, coworking space, atau pusat hiburan. Namun, berapa banyak ruang baca yang benar-benar hidup? Berapa banyak anak muda yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat berkembang, bukan sekadar tempat singgah saat tugas menumpuk? Inilah paradoks yang terjadi. Di satu sisi, Denpasar ingin menjadi kota kreatif dan berbasis pengetahuan. Di sisi lain, budaya membaca belum benar-benar mengakar kuat.

Baca Juga :  BRI Dorong Ekonomi Sirkular Desa, Perkuat Layanan Pengelolaan Sampah di Gianyar

Fenomena “generasi scroll”—yang terbiasa mengonsumsi informasi cepat dari media sosial—semakin memperlebar jurang ini. Informasi memang melimpah, tetapi tidak selalu berkualitas. Tanpa kemampuan literasi yang baik, masyarakat mudah terjebak pada informasi dangkal, bahkan disinformasi.

Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi sangat nyata: kualitas keputusan ekonomi menurun, inovasi mandek, dan daya saing melemah. Selama ini, perpustakaan sering ditempatkan sebagai fasilitas pelengkap, bukan prioritas. Padahal, jika dikelola dengan tepat, perpustakaan bisa menjadi infrastruktur ekonomi yang strategis.

Bayangkan jika perpustakaan tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga, pusat pelatihan UMKM berbasis literasi bisnis, akses data pasar dan riset sederhana bagi pelaku usaha, ruang belajar bahasa untuk pekerja pariwisata, inkubator ide bagi generasi muda.

Di banyak negara maju, perpustakaan telah berevolusi menjadi pusat inovasi dan pembelajaran publik. Ia bukan lagi tempat sunyi, melainkan ruang interaksi, diskusi, dan penciptaan ide. Denpasar memiliki peluang besar untuk menuju ke arah itu. Dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang kuat, perpustakaan bisa menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik ekonomi.

Selain perpustakaan, arsip daerah juga menyimpan potensi ekonomi yang jarang disadari. Dokumen lama, foto sejarah, hingga catatan kebijakan masa lalu bukan sekadar memori, tetapi juga sumber nilai. Arsip dapat dimanfaatkan untuk, konten kreatif (film, buku, dokumenter), wisata sejarah berbasis narasi lokal, riset kebijakan berbasis data historis

Di era ekonomi digital, konten adalah komoditas. Dan arsip adalah bahan bakunya. Sayangnya, banyak arsip yang belum terdigitalisasi atau belum dikelola secara optimal. Akibatnya, potensi ekonominya mengendap tanpa pernah dimanfaatkan.

Sering muncul anggapan bahwa investasi di bidang literasi tidak memberikan hasil cepat. Tidak seperti pembangunan fisik yang langsung terlihat, dampak literasi bersifat jangka panjang. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Investasi literasi, meningkatkan kualitas tenaga kerja, mengurangi kesalahan dalam pengambilan keputusan, mendorong inovasi berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, biaya yang dikeluarkan jauh lebih kecil dibandingkan dampak ekonomi yang dihasilkan. Sebaliknya, mengabaikan literasi bisa menjadi mahal. Kota bisa tumbuh secara fisik, tetapi stagnan secara kualitas. Ekonomi bisa bergerak, tetapi tidak berkembang.

Denpasar tidak kekurangan potensi. Namun, untuk benar-benar bersaing di era global, kota ini membutuhkan lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi—ia membutuhkan kualitas. Dan kualitas itu dibangun dari kebiasaan sederhana: membaca, memahami, dan berpikir. Perpustakaan dan arsip bukan sekadar fasilitas publik. Ia adalah fondasi peradaban ekonomi. Tempat di mana ide lahir, pengetahuan berkembang, dan masa depan dirancang.

Jika ruang-ruang ini terus sepi, maka bukan hanya budaya membaca yang terancam, tetapi juga masa depan ekonomi itu sendiri. Karena pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak hanya dibangun dari modal dan infrastruktur, tetapi dari manusia yang mampu berpikir.Dan manusia seperti itu tidak lahir secara instan—ia dibentuk, salah satunya, di perpustakaan.

Leave a Reply